Langit masih tertutup awan gelap dan hawa dingin langsung
datang menyapa ketika saya tiba di Simpang Balik Kecamatan Wih Pesam Kabupaten
Bener Meriah sore itu. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 290 km dari
Kota Banda Aceh dengan menggunakan sepeda motor, sejenak saya beristirahat di
sebuah warung kopi di sekitaran Simpang Balik sambil menikmati secangkir kopi
susu dan beberapa potong kue.
Perjalanan menuju Kabupaten Bener Meriah cukup mudah,
karena transportasi yang ada sudah sangat memadai untuk melakukan perjalanan.
Dari Kota Banda Aceh kita bisa memilih angkutan mini bus dengan biaya sekitar
Rp 100.000,- per orang. Atau juga bisa menggunakan sepeda motor melewati
beberapa kabupaten di pesisir timur Aceh dengan waktu kurang lebih 8 jam
perjalanan normal.
Keesokan harinya saya bersiap-siap untuk menlanjutkan
rencana perjalanan yaitu mendaki Gunung Burni Telong. Gunung ini terletak di
Kabupaten Bener Meriah, memiliki tinggi sekitar 2623 mdpl. Gunung ini cukup
terkenal dikalangan mahasiswa pecinta alam yang ada di Aceh. Selain track
pedakian yang cukup terjal, keindahan alamnya juga tidak kalah dengan gunung
yang lain.
Burni Telong dalam bahasa Gayo berarti gunung yang
terbakar. Burni Telong merupakan salah satu gunung berapi yang masih aktif. Catatan
sejarah menyebutkan Gunung ini pernah meletus pada tanggal 7 Desember 1924 dan
menyebabkan kerusakan parah disekitarnya. Burni telong berjarak hanya 5 km dari
Ibu Kota Kabupaten Bener Meriah, Redelong. Disekitar kaki gunung ini terdapat
beberapa pemandian air panas seperti di Simpang Balik dan Lampahan yang menjadi
salah satu objek wisata Bener Meriah.
Tanggal 11 Januari 2014 pukul 19.16 WIB saya bersama
dengan 2 orang mahasiswi asal Takengon memulai pendakian Burni Telong. Sebelumnya
kami singgah di pondok warga sekitar untuk menitipkan sepeda motor dan shalat
Magrib. Start awal pendakian melewati perkebunan kopi warga di desa Rembune.
Malam itu gerimis mengantar kami melewati perkebunan dan masuk menuju hutan
Burni Telong. Ada berapa jalur untuk mencapai puncak gunung, namun jalur
pendakian dari desa Rembune ini lebih sering dilewati para pendaki.
Suasana gelap dan sesekali terdengar suara hewan malam
penghuni hutan menemani perjalanan kami. Jalur yang kami lewati sedikit basah
dan cukup terjal. Terkadang kami harus memegang akar dan ranting pohon yang ada
untuk membantu perjalanan menembus hutan. Setelah berjalan selama kurang lebih
2 jam, akhirnya kami tiba di tempat dimana biasanya pendaki mendirikan tenda
untuk beristirahat. Kami langsung mencari tempat yang tepat untuk menyalakan
api unggun dan beristirahat. Hawa dingin langsung menyergap walaupun tubuh
sudah dilindungi jaket dan sarung tangan.
Seperti yang direncanakan kami melanjutkan perjalanan
setelah sebelumnya santap malam dan tidur. Jam menunjukkan pukul 03.00 WIB pagi
dan udara semakin bertamah dingin. Perjalanan tahap kedua ini kami melalui
hamparan ilalang yang menutupi jalur. Tidak beberapa lama kami berhadapan
dengan padang edelweis. Penduduk kaki gunung Burni Telong biasa menyebutnya
bunga abadi. Jalur pendakian di padang edelweis ini cukup terjal yang terdiri
dari batu dan pasir.
Di jalur ini kita sudah dapat melihat punncak gunung yang
berbentuk lancip, walaupun kadang-kadang tertutup kabut. Jalur ini terasa lebih
berat karena lebih terjal dan memerlukan konsentrasi lebih. Dari sini
sebenarnya kita dapat melihat hamparan hutan hijau yang luas. Namun karena hari
masih gelap maka yang terlihat hanya bayangan hitam saja.
Pukul 05.00 WIB pagi kami tiba di sebuah gua kecil tempat
pendaki biasa menginap beberapa hari. Perjalanan melewati padang edelweis kami
tempuh kira-kira selama 2 jam. Beristirahat sejenak sembari menunggu waktu
shalat subuh tiba. Sebelumnya sudah ada beberapa kelompok pendaki yang sudah
tiba di puncak dan menginap di atas. Ada juga beberapa orang yang menginap di
gua.
Sekitar pukul 06.00 WIB kami mulai kembali perjalanan
menuju pucak. Jalur ini lebih terjal dari pada jalur di padang edelweis.
Perjalanan kami tempuh sekitar 30 menit dan sampai dipuncak disambut dengan
matahari terbit dan tumpukan awan yang membentang indah. Kami langsung mengabadikan
moment ini sambil menikmati hangatnya matahari pagi.
Setelah puas memotret, kami bersiap untuk sarapan.
Sarapan kali ini terasa spesial karena dinikmati diatas ketinggian punncak
Burni Telong. Hari masih terlalu pagi untuk turun gunung, jadi kami memutuskan
untuk tidur sejenak. Sekitar pukul 10.00 WIB kami mulai bersiap untuk turun.
Kali ini kabut dingin menemani perjalan turun kami.
Dari padang ilalang kita bisa melihat puncak Burni Telong
yang tertutup kabut tipis menjulang tinggi. Disekeliling perjalanan turun kita
bisa melihat pepohonan yang masih tegak berdiri. Sekitar pukul 13.00 WIB kami
tiba di titik awal pendakian. Setelah sejenak melepas lelah, kami berpisah
untuk menuju ke kediaman masing-masing.
Pandakian kali ini sangat spesial karena dapat menikmati
sunrise dari puncak gunung. Ini juga merupakan pendakian kedua bagi saya. Rasa
lelah terbayar lunas dengan keindahan alam dataran tinggi Gayo. Dari ketinggian
puncak gunung kita dapat merasakan kebesaran Tuhan yang menciptakann seluruh
alam ini. Rasa syukur seharusnya ada dalam diri kita yang diaplikasikan dengan
menjaga kelestarian alam. Rasanya tidak sabar untuk kembali menjejakan kaki di
puncak tertinggi Burni Telong.
Beruntung pada tanggal hari senin tepatnya tanggal 13
Januari saya dan beberapa teman dapat menyaksikan kemeriahan lomba pacuan kuda
di Bener Meriah. Pacuan kuda sudah menjadi tradisi tahunan di Dataran Tinggi
Gayo. Peserta lomba biasanya datang dari Kabupaten Aceh Tenggara, Gayo Lues,
Aceh Tengah dan Bener Meriah. Disekitaran arena pacuan kuda juga banyak barang
dagangan yang bisa dibawa pulang sebagai buah tangan.
Halo mas Fitra, Salam kenal. Rencana saya mau mendaki Gunung Burni Telong. Boleh minta kontaknya mas? no hp/whatsapp?
BalasHapusMakasih :)