Minggu, 25 Mei 2014

Mengaya Waterfall And Gayo Highland Hill. The Beauty of Takengon City.



Seperti biasa, pagi itu masih terasa dingin dan sejuk. Udara segar masih terasa dan rasa malas seolah mengajak untuk terus berada dibalik selimut yang hangat. Tapi sepertinya rugi untuk melewatkan suasana pagi yang sejuk itu. Ada beberapa agenda yang sudah kami rencanakan untuk menjelajah keindahan alam di Dataran Tinggi Gayo ini.
Pagi itu panorama indah langsung terlihat di tepi Danau Lut Tawar. Barisan gunung disekeliling danau yang ditutupi oleh kabut tipis menambah keindahan yang ditawarkan oleh danau Lut Tawar. Agenda pertama pagi itu adalah menikmati udara segar ditepi danau yang berada di belakang rumah tempat kami bermalam. Mata serasa dimanjakan dengan keindahan danau yang menjadi kebanggaan rakyat Aceh ini. Seperti tidak ada bosannya untuk terus menatap alam danau Lut Tawar walaupun sudah beberapa kali mengunjunginya.
Matahari belum begitu tinggi ketika kami bersiap-siap menuju ke destinasi berikutnya dari agenda penjelajahan. Letaknya sekitar 15 kilometer dari pusat kota Takengon, desa Mengaya yang berada di tepi danau Lut Tawar itu menjadi lokasi berikutnya. Di desa Mengaya terdapat air terjun yang menjadi salah satu tempat wisata alam andalan di kota Tekengon. Perjalanan menuju lokasi air terjun dapat ditempuh menggunakan sepeda motor atau kendaraan roda empat, walaupun jalannya agak kecil. Ditengah perjalanan menuju lokasi air terjun yang jaraknya sekitar 500 meter dari jalan utama, mata kita akan disuguhi hamparan sawah hijau di sebelah kiri yang seolah menjadi hidangan pembuka.
Pintu masuk utama menuju lokasi air terjun diawali dengan aliran air sungai yang bening dan beberapa pondok kayu dipinggirnya. Perjalanan berikutnya harus ditempuh tanpa kendaraan. Jalannya agak mendaki dan sudah ada fasilitas yang cukup baik walaupun agak kurang terawat. Sampah plastik masih berserakan di sekitar lokasi sungai. Tidak berapa lama berjalan, suara deburan air yang jatuh akan terdengar di antara batu gunung.
Air terjun Mengaya memiliki tinggi sekitar 10 – 15 meter, namun terdiri dari beberapa tingkat. Udara segar khas pegunungan dan aliran air yang jernih menjadi bumbu penyedap bagi siapa pun yang pernah mengunjungi Dataran Gayo ini. Setelah merasakan dinginnya air terjun dan mengabadikan beberapa momen di lokasi wisata ini, kami pun melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya.
Jika anda berada di pusat kota Takengon, maka anda akan dapat melihat rangkaian huruf membentuk kalimat “Gayo Highland” yang berada di puncak bukit. Itu adalah destinasi perjalanan berikutnya. Jalannya yang menanjak membutuhkan waktu sekitar 15 menit dari pusat kota. Setelah berada di atas perjalanan harus ditempuh selangkah demi selangkah menapaki jalan setapak.
Hamparan luas kota Takengon langsung terlihat begitu indah saat kami berada di depan tulisan “Gayo Highland”. Danau Lut Tawar tetap menawan dinikmati dari ketinggian bukit “Gayo Highland”. Keindahan alam ini semakin menambah alasan untuk terus berlama – lama berada di tengah pelukan kabut dingin kota Takengon.
Danau Lut Tawar menjadi objek wisata utama yang menawarkan berbagai keindahan alam. Namun bukan menjadi satu-satunya lokasi wisata di Kota Dingin ini. Air terjun Mengaya menampilkan sisi lain keindahan alam kota Takengon yang masih hijau. Bukit “Gayo Highland” menjadi magnet untuk memanjakan mata melihat hamparan luas kota Takengon dan danau Lut Tawar. Perjalanan hari itu terasa begitu lengkap jika saja bisa menikmati masakan khas Gayo yaitu Asam Jing yang disajikan hangat dengan berbagai pilihan menu pendamping.
Semua keindahan alam itu akan tetap ada selama kita sadar untuk terus menjaga dan memliharanya dari tangan-tangan jahil yang kurang bertanggung jawab. Setiap mereka yang merasa pernah menikmati indahnya kota Takengon harusnya memiliki kesadaran untuk terus menjaga kelestarian ciptaan Ilahi ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar