Seperti
biasa, pagi itu masih terasa dingin dan sejuk. Udara segar masih terasa dan
rasa malas seolah mengajak untuk terus berada dibalik selimut yang hangat. Tapi
sepertinya rugi untuk melewatkan suasana pagi yang sejuk itu. Ada beberapa
agenda yang sudah kami rencanakan untuk menjelajah keindahan alam di Dataran
Tinggi Gayo ini.
Pagi
itu panorama indah langsung terlihat di tepi Danau Lut Tawar. Barisan gunung
disekeliling danau yang ditutupi oleh kabut tipis menambah keindahan yang
ditawarkan oleh danau Lut Tawar. Agenda pertama pagi itu adalah menikmati udara
segar ditepi danau yang berada di belakang rumah tempat kami bermalam. Mata
serasa dimanjakan dengan keindahan danau yang menjadi kebanggaan rakyat Aceh
ini. Seperti tidak ada bosannya untuk terus menatap alam danau Lut Tawar
walaupun sudah beberapa kali mengunjunginya.
Matahari
belum begitu tinggi ketika kami bersiap-siap menuju ke destinasi berikutnya
dari agenda penjelajahan. Letaknya sekitar 15 kilometer dari pusat kota
Takengon, desa Mengaya yang berada di tepi danau Lut Tawar itu menjadi lokasi
berikutnya. Di desa Mengaya terdapat air terjun yang menjadi salah satu tempat
wisata alam andalan di kota Tekengon. Perjalanan menuju lokasi air terjun dapat
ditempuh menggunakan sepeda motor atau kendaraan roda empat, walaupun jalannya
agak kecil. Ditengah perjalanan menuju lokasi air terjun yang jaraknya sekitar
500 meter dari jalan utama, mata kita akan disuguhi hamparan sawah hijau di
sebelah kiri yang seolah menjadi hidangan pembuka.
Pintu
masuk utama menuju lokasi air terjun diawali dengan aliran air sungai yang
bening dan beberapa pondok kayu dipinggirnya. Perjalanan berikutnya harus
ditempuh tanpa kendaraan. Jalannya agak mendaki dan sudah ada fasilitas yang
cukup baik walaupun agak kurang terawat. Sampah plastik masih berserakan di
sekitar lokasi sungai. Tidak berapa lama berjalan, suara deburan air yang jatuh
akan terdengar di antara batu gunung.
Air
terjun Mengaya memiliki tinggi sekitar 10 – 15 meter, namun terdiri dari
beberapa tingkat. Udara segar khas pegunungan dan aliran air yang jernih
menjadi bumbu penyedap bagi siapa pun yang pernah mengunjungi Dataran Gayo ini.
Setelah merasakan dinginnya air terjun dan mengabadikan beberapa momen di
lokasi wisata ini, kami pun melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya.
Jika
anda berada di pusat kota Takengon, maka anda akan dapat melihat rangkaian
huruf membentuk kalimat “Gayo Highland” yang berada di puncak bukit. Itu adalah
destinasi perjalanan berikutnya. Jalannya yang menanjak membutuhkan waktu sekitar
15 menit dari pusat kota. Setelah berada di atas perjalanan harus ditempuh
selangkah demi selangkah menapaki jalan setapak.
Hamparan
luas kota Takengon langsung terlihat begitu indah saat kami berada di depan
tulisan “Gayo Highland”. Danau Lut Tawar tetap menawan dinikmati dari
ketinggian bukit “Gayo Highland”. Keindahan alam ini semakin menambah alasan
untuk terus berlama – lama berada di tengah pelukan kabut dingin kota Takengon.
Danau
Lut Tawar menjadi objek wisata utama yang menawarkan berbagai keindahan alam.
Namun bukan menjadi satu-satunya lokasi wisata di Kota Dingin ini. Air terjun
Mengaya menampilkan sisi lain keindahan alam kota Takengon yang masih hijau.
Bukit “Gayo Highland” menjadi magnet untuk memanjakan mata melihat hamparan
luas kota Takengon dan danau Lut Tawar. Perjalanan hari itu terasa begitu
lengkap jika saja bisa menikmati masakan khas Gayo yaitu Asam Jing yang
disajikan hangat dengan berbagai pilihan menu pendamping.
Semua
keindahan alam itu akan tetap ada selama kita sadar untuk terus menjaga dan
memliharanya dari tangan-tangan jahil yang kurang bertanggung jawab. Setiap
mereka yang merasa pernah menikmati indahnya kota Takengon harusnya memiliki
kesadaran untuk terus menjaga kelestarian ciptaan Ilahi ini.